Menjadi Hening dalam "Sejenak Hening"
Judul buku: SEJENAK HENING
Menjalani Setiap Hari dalam Hidup dengan Sadar, Sederhana dan Bahagia
Penulis: ADJIE SILARUS
***
Ketika saya membaca teaser "Sejenak Hening" karya Adjie Silarus, saya sambil mendengarkan komposisi piano karya S. Rachmaninoff.
Kebiasaan saya bila ingin konsentrasi mengerjakan sesuatu depan laptop.
Nampak kontradiksi dengan judul calon buku yang saya coba review seperti tawaran dari penggagas IIDN, Mbak Indari Mastuti.
Karena judul karyanya "Sejenak Hening", tetapi di kepala saya tidak ada keheningan pun, tetapi aneh batin saya tenang.
Saya belum pernah membaca karya-karya Adjie Silarus sebelumnya.
Saya pun tidak membaca terlebih dahulu profilnya seperti umumnya saya akan membeli buku, yaitu membaca terlebih dahulu profil penulisnya.
Saya baru tahu bahwa Adjie Silarus lulusan Psikologi dan bisa mengelola stres dan menyembuhkan diri sendiri (self healing), di akhir buku.
Karena saya membacanya runut dari awal sampai akhir.
Ibu saya puluhan tahun yang lalu mempunyai sakit yang sama dengan Adjie, yaitu HNP, justru memilih dioperasi oleh ahli bedah syaraf.
Ah, seandainya ibu saya puluhan tahun yang lalu kenal dengan Adjie.
Dari awal membaca kata dan kalimat demi kalimat, saya menangkap uraiannya sederhana tetapi lugas.
Bukunya diawali dengan kisah berjudul "Menutup Jendela".
Untaian kata-katanya adalah nukilan kehidupan sehar-hari yang hampir sama kita alami juga.
Misalnya, jengkel dengan acara TV yang tidak bermutu, tenggelam dalam gadget, bosan dengan pasangan tetapi tidak membuat kita melakukan tindakan apapun.
Kita hanya ingin diam kontemplasi sejenak memaknai hidup yang telah kita lalui.
Seperti makna dalam kisah pertama, kenapa kita tidak menutup jendela hati saja.
Gaya penulisan Adjie yang tanpa bab dan seolah sepotong-sepotong dan seenaknya mungkin adalah cerminan kehidupan kita juga.
Siapa sih yang benar-benar tatanan hidupnya sehari-hari runut seperti bab-bab dalam buku?
Jangan-jangan kitapun pola hidupnya loncat sana loncat sini, demi alasan kepraktisan atau sekalian jalan, karena kalau tidak sekarang kapan lagi?
Yang penting bagi Adjie nampaknya, nikmatilah hal-hal kecil sehingga menjadi sangat berarti.
Seperti yang dikisahkan Adjie dimasa kecilnya menikmati kue lidah kucing buatan ibunya, segigit demi segigit sambil melihat tanaman di teras rumah, dalam salah satu judul tulisahnnya "Lidah Kucing".
Kita mungkin mempunyai pengalaman yang sama memaknai hal-hal kecil tetapi berkesan dalam hidup kita dengan kisah yang berbeda.
Kisah-kisah selanjutnya seolah mengajak kita memaknai hidup dengan ringan, tersenyum saja dan banyak tertawa.
LOL (laugh out loud).
Jadi kita tidak perlu risau dengan hidup ini.
Jalani saja, dengan demikian hidup kita akan bahagia.
Seperti salah satu quote yang ada di buku tersebut:
“Tak perlu mati-matian mencari hal yang tak dibawa mati,” begitu kata Emha Ainun Najib.
***
Dan permainan pianopun selesai.
Lalu hening.