Semangat Konsisten

Hari pertama menghadiri Kelas Sekolah Perempuan, saya datang terlambat.
Harusnya saya bisa datang tepat waktu, kalau di rumah tidak ada tukang yang sedang mencat kembali rumah saya. Tidak ada rekayasa lalu-lintas di jalan Buahbatu yang hanya boleh satu arah dari Selatan ke Utara dari jam 6 - 8 pagi. Tidak ada resolusi sebelumnya, bahwa saya akan libur di hari Sabtu. Tidak ada perbaikan jalan di kompleks, sehingga saya lupa portal-portal mana yang ditutup dan dibuka.
Wah, minggu depan saya berjanji tidak terlambat datang ke kelas.

Sesi pertama dimulai dengan memperkenalkan diri. Saya ketinggalan sesi perkenalan beberapa teman sebelumnya. Dimulai dengan nama lengkap, nama panggilan, menikah atau single parent, berputra beberapa atau belum. Bekerja atau tidak bekerja.
Ibu guru kami nan cantik, ibu Indari Mastuti dengan renyah menyimak setiap murid yang memperkenalkan diri.
Lalu saya bisa menyimpulkan ada pertanyaan kunci yang selalu ditanyakan: "Ingin menulis buku tentang apa?"

Ini dia, kata kunci yang saya belum peroleh jawabannya selama berhari-hari.

Teman-teman baru saya, lagi-lagi sebagian besar sudah mempunyai sesuatu yang akan diangkat sebagai tema. Ada tentang Kreasi membuat Boneka, Kreasi Rajutan, Dongeng Anak, Fiksi, Resep Masakan dan lain-lain.
Tibalah giliran saya memperkenalkan diri. Selain alasan saya ikut Kelas Sekolah Perempuan dan tentu saja, saya sampaikan juga bahwa saya tidak punya ide atau tema sama sekali untuk bahan tulisan menjadi buku.
Tak terduga, ternyata ibu Indari punya ide yang sesuai untuk saya, yang termasuk kriteria ibu-ibu yang berusia 50 tahunan. Kira-kira arahannya adalah saya menulis tentang mengarahkan anak-anak membina rumahtangga.
Nampaknya saya diarahkan untuk menulis tema tentang parenting.Tetap saja, lagi-lagi saya agak ragu. Saya tidak punya latarbelakang ilmu psikologi.

Ibu Guru cantik ini, enak sekali metoda mengajar dan motivasinya.
Petama, menulis itu MUDAH.
Kemudian memotivasi untuk berjanji kepada diri sendiri, harus konsisten menulis TIAP HARI.
Tibalah pada pilihan Fiksi, Faksi atau Non Fiksi.
Dan akhirnya memilih TEMA.

Memang pengalaman menulis blog membuat saya bisa menulis apa saja, termasuk curhat.
Bahkan menulis fiksi pun, saya coba-coba ikut blog Flash Fiction.
Sedangkan cara penulisan di kampus harus taat asas dan harus sesuai dengan tatacara penulisan karya ilmiah. Padahal sudah hampir 2 tahun saya tidak melakukan penelitian apapun yang bisa disusun sebagai tulisan ilmiah.
Buku lain yang saya terlibat penyusunannya sejak 2009 sampai sekarang, merupakan buku panduan untuk bermain piano bagi murid usia 4-6 tahun. Didalam tim tersebut saya hanya bertugas memindahkan not-not balok ke dalam program Sibelius dan meng'convert'nya dalam bentuk '*.jpg'. Selanjutnya menyusun tataletaknya dalam program Coreldraw. Pun buku tersebut hanya dicetak terbatas untuk murid sekolah musik di tempat saya mengajar.

Lepas dari semua itu saya belum pernah menulis buku atas nama saya sendiri.
Apalagi menulis buku sampai berbentuk naskah siap edit dan ditawarkan ke penerbit.
Sementara arahan ibu Guru adalah, bila menulis buku, minimal 120 halaman.
Dan yang utama adalah TARGET, 1 buku dalam 3 bulan.
Saya pikir saya harus belajar sesuatu yang baru tentang penulisan.
Saya yang tadinya GJ alias gak jelas mau menulis apa jadi terpancing mau menulis apa.
Format matriks yang dibagikan kepada kami merupakan solusi cerdas supaya kami bisa memantau progres penulisan kami.

Disela-sela penjelasan ibu Guru, ada seorang tamu ibu muda dengan putrinya.
Ternyata Adriana HS, seorang penulis. Kiatnya terus menulis-menulis-menulis.
Walaupun ditolak penerbit, perasaannya biasa saja. Pokoknya tetap menulis.
Saya koq rasanya seperti tertantang.
Apalagi ibu Guru sudah siap dengan PR untuk minggu depan.

Siapkan 30 (tigapuluh !!) judul buku sesuai tema yang dipilih.
Rasanya koq...kalau saya sudah menulis ke-30 judul tersebut dan saya harus tuangkan dalam tulisan.
Saya tidak mungkin mundur lagi. Ibaratnya saya sudah terjun ke sungai, harus berenang ke seberang, kalau tidak saya tenggelam.

Tidak bisa lain, saya harus KONSISTEN.
Diberdayakan oleh Blogger.