Mengenal lebih jauh 'Copywriter'
Pertama kali saya mendengar kata 'copywriter, dari suami saya yang latarbelakang pendidikannya desain grafis (sekarang desain komunikasi visual).
Dia hanya menjelaskan bahwa copywriter adalah salah satu profesi di dunia periklanan.
Gajinya besar tambahnya lagi.
Kerjanya selalu brainstorming dengan bidang lain karena harus kaya dengan ide-ide.
Copywriter latarbelakang pendidikannya apa saja, bisa psikolog, hukum internasional, ekonomi, arsitek, pokoknya apa saja.
Dan idenya bisa datang kapan saja dimana saja.
Bisa saja ketika berada di kamar mandi, lalu 'cling' ada ide.
Tetap saja saya belum jelas, apa saja kerja copwriter tersebut.
Ketika anak bungsu saya juga berprofesi di bidang yang sama dengan ayahnya, dia agak lebih jelas menggambarkannya.
"Pokoknya Bu. Itu lhoo yang suka bikin tagline-tagline".
Wah, ada kata baru lagi, tagline.
Akhirnya anak saya memberi contoh sederhana.
"Terus Terang Phillips Terang Terus"
"Pegadaian, Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah"
"Rinso, Mencuci Tiada duanya"
"Kijang, Memang Tiada Duanya"
Itulah salah satu bidang kerja Copywriter.
Seringkali karena dunia periklanan sarat dengan persaingan, begitu muncul tagline salah satu produk, maka hari berikutnya muncul saingan dengan produk sejenis dan tagline yang tak kalah profokatif.
Misalnya, "Orang Pintar Minum Tolak Angin".
Muncul tagline 'lawan'nya yang memutarbalikkan pemahaman khalayak, bahwa seseorang tidak perlu pintar, tetapi cukup beruntung (bejo) saja.
Maka muncullah, "Orang Bejo Minum Bintang 7 Masuk Angin".
Saya mengerti sekarang, pantas saja copywriter dibayar mahal, karena dia harus menciptakan narasi iklan yang ringkas tetapi efektif.
Menurut saya profesi copywriter tidak mudah, karena dia harus mengolah kata-kata, yang kalau salah sasaran atau tidak tepat bisa menjadi obyek cemoohan.
Misalnya tagline "We Make People Fly" dari perusahaan penerbangan tertentu.
Diplesetkan kata 'fly'nya.
Seperti kita tahu 'fly' dapat juga berarti teler karena narkoba.
Apalagi perusahaan penerbangan tersebut kebetulan menjual tiket murah (budget airline), sehingga taglinenya dipelintir, alih-alih terbang dalam artian terbang sungguh-sungguh tetapi teler.
Atau salah satu provider internet yang mengusung tagline "Speed That You Can Trust".
Ketika ternyata provider tersebut lelet, maka slogannya dianggap menipu.
Apabila dikaitkan dengan dunia periklanan, maka copywriter bisa disebut sebagai pencipta narasi iklan.
Pembuatan naskah-naskah iklan atau copywriting tersebut harus tahu target audience (sasaran produk) atau produk yang dibuatkan narasi iklannya ditujukan untuk konsumen yang seperti apa.
Kalimat narasi iklan minuman suplemen untuk pria perkasa tentunya berbeda dengan kalimat narasi iklan untuk produk susu.
Itu sebabnya copywriter harus selalu bertukar pikiran dengan tim kreatif yang lain dari sisi visual dan tentu saja pihak produsen sebagai pemberi tugasnya.
Untuk iklan-iklan berbentuk film atau iklan radio harus bekerja sama dengan jinglenya (musik pendek), karena rata-rata durasinya hanya 60 detik.
Baru-baru ini, kata 'copywriting' kembali bergema di grup FB IIDN dan Indscript Copywriting.
Bahkan founder dari IIDN & Indscript Copywriting, Teh Indari Mastuti harus meluangkan waktu di hari Minggu, 29 Desember 2013, untuk menjabarkan apa saja copywriting tersebut.
Teh Indari menjelaskan bahwa Indscript Copywriting telah mulai melebarkan sayap tidak hanya mengolah naskah buku, tetapi juga membuat artikel untuk web (web content) beberapa perusahaan, misalnya ISIC (Indonesian Student Identity Card), Gistex dan Indoducting.
Apalagi fee sebagai penulis konten web sangat menjanjikan, karena jauh lebih besar daripada menjadi penulis buku yang dihargai sekian belas ribu per lembar.
Intinya adalah, di tahun 2014 yang akan datang, Indscript Creative juga menawarkan peluang pada komunitas IIDN dan Indscript Copywriting tidak hanya berprofesi sebagai penulis naskah buku tetapi juga menjadi copywriter.
Ternyata copywriter sekarang mulai merambah ke dunia blogger juga, karena beberapa produsen membuat blog khusus untuk mendukung pemasarannya.
Walaupun demikian segi penulisannya tetap saja tidak boleh sembarangan dan harus dapat dipertanggungjawabkan isinya.
Kesempatan juga sangat terbuka luas melalui jaringan sosial media seperti Facebook dan Twitter.
Jaringan pertemanan yang mulai terbentuk tahun 2008 tersebut cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan menawarkan produk.
Kemudian berkembang lagi dengan adanya Twitter, yang juga dimanfaatkan oleh produsen-produsen besar membuat Buzzer.
Bayangkan, batasan maksimal 140 kata, membuat seseorang harus selalu kreatif mengolah kata-kata yang tepat sasaran, halus kontennya yang justru tidak berkesan beriklan.
Untuk itu tidak ada alasan, 'saya gaptek', 'tidak ada waktu', 'ribet dengan urusan rumah' dan lain sebagainya.
Karena hanya kita sendiri yang dapat merebut kesempatan tersebut.
Bagaimana? Tertarikkah ibu-ibu untuk menjadi Copywriter?
***
Pustaka:
Agustrijanto; 2001; Copywriting - Seni Mengasah Kreativitas dan Memahami Bahasa Iklan; Bandung; Remaja Rosdakarya
Dia hanya menjelaskan bahwa copywriter adalah salah satu profesi di dunia periklanan.
Gajinya besar tambahnya lagi.
Kerjanya selalu brainstorming dengan bidang lain karena harus kaya dengan ide-ide.
Copywriter latarbelakang pendidikannya apa saja, bisa psikolog, hukum internasional, ekonomi, arsitek, pokoknya apa saja.
Dan idenya bisa datang kapan saja dimana saja.
Bisa saja ketika berada di kamar mandi, lalu 'cling' ada ide.
Tetap saja saya belum jelas, apa saja kerja copwriter tersebut.
Ketika anak bungsu saya juga berprofesi di bidang yang sama dengan ayahnya, dia agak lebih jelas menggambarkannya.
"Pokoknya Bu. Itu lhoo yang suka bikin tagline-tagline".
Wah, ada kata baru lagi, tagline.
Akhirnya anak saya memberi contoh sederhana.
"Terus Terang Phillips Terang Terus"
"Pegadaian, Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah"
"Rinso, Mencuci Tiada duanya"
"Kijang, Memang Tiada Duanya"
Itulah salah satu bidang kerja Copywriter.
Seringkali karena dunia periklanan sarat dengan persaingan, begitu muncul tagline salah satu produk, maka hari berikutnya muncul saingan dengan produk sejenis dan tagline yang tak kalah profokatif.
Misalnya, "Orang Pintar Minum Tolak Angin".
Muncul tagline 'lawan'nya yang memutarbalikkan pemahaman khalayak, bahwa seseorang tidak perlu pintar, tetapi cukup beruntung (bejo) saja.
Maka muncullah, "Orang Bejo Minum Bintang 7 Masuk Angin".
Saya mengerti sekarang, pantas saja copywriter dibayar mahal, karena dia harus menciptakan narasi iklan yang ringkas tetapi efektif.
Menurut saya profesi copywriter tidak mudah, karena dia harus mengolah kata-kata, yang kalau salah sasaran atau tidak tepat bisa menjadi obyek cemoohan.
Misalnya tagline "We Make People Fly" dari perusahaan penerbangan tertentu.
Diplesetkan kata 'fly'nya.
Seperti kita tahu 'fly' dapat juga berarti teler karena narkoba.
Apalagi perusahaan penerbangan tersebut kebetulan menjual tiket murah (budget airline), sehingga taglinenya dipelintir, alih-alih terbang dalam artian terbang sungguh-sungguh tetapi teler.
Atau salah satu provider internet yang mengusung tagline "Speed That You Can Trust".
Ketika ternyata provider tersebut lelet, maka slogannya dianggap menipu.
Apabila dikaitkan dengan dunia periklanan, maka copywriter bisa disebut sebagai pencipta narasi iklan.
Pembuatan naskah-naskah iklan atau copywriting tersebut harus tahu target audience (sasaran produk) atau produk yang dibuatkan narasi iklannya ditujukan untuk konsumen yang seperti apa.
Kalimat narasi iklan minuman suplemen untuk pria perkasa tentunya berbeda dengan kalimat narasi iklan untuk produk susu.
Itu sebabnya copywriter harus selalu bertukar pikiran dengan tim kreatif yang lain dari sisi visual dan tentu saja pihak produsen sebagai pemberi tugasnya.
Untuk iklan-iklan berbentuk film atau iklan radio harus bekerja sama dengan jinglenya (musik pendek), karena rata-rata durasinya hanya 60 detik.
Baru-baru ini, kata 'copywriting' kembali bergema di grup FB IIDN dan Indscript Copywriting.
Bahkan founder dari IIDN & Indscript Copywriting, Teh Indari Mastuti harus meluangkan waktu di hari Minggu, 29 Desember 2013, untuk menjabarkan apa saja copywriting tersebut.
Teh Indari menjelaskan bahwa Indscript Copywriting telah mulai melebarkan sayap tidak hanya mengolah naskah buku, tetapi juga membuat artikel untuk web (web content) beberapa perusahaan, misalnya ISIC (Indonesian Student Identity Card), Gistex dan Indoducting.
Apalagi fee sebagai penulis konten web sangat menjanjikan, karena jauh lebih besar daripada menjadi penulis buku yang dihargai sekian belas ribu per lembar.
Intinya adalah, di tahun 2014 yang akan datang, Indscript Creative juga menawarkan peluang pada komunitas IIDN dan Indscript Copywriting tidak hanya berprofesi sebagai penulis naskah buku tetapi juga menjadi copywriter.
Ternyata copywriter sekarang mulai merambah ke dunia blogger juga, karena beberapa produsen membuat blog khusus untuk mendukung pemasarannya.
Walaupun demikian segi penulisannya tetap saja tidak boleh sembarangan dan harus dapat dipertanggungjawabkan isinya.
Kesempatan juga sangat terbuka luas melalui jaringan sosial media seperti Facebook dan Twitter.
Jaringan pertemanan yang mulai terbentuk tahun 2008 tersebut cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan menawarkan produk.
Kemudian berkembang lagi dengan adanya Twitter, yang juga dimanfaatkan oleh produsen-produsen besar membuat Buzzer.
Bayangkan, batasan maksimal 140 kata, membuat seseorang harus selalu kreatif mengolah kata-kata yang tepat sasaran, halus kontennya yang justru tidak berkesan beriklan.
Untuk itu tidak ada alasan, 'saya gaptek', 'tidak ada waktu', 'ribet dengan urusan rumah' dan lain sebagainya.
Karena hanya kita sendiri yang dapat merebut kesempatan tersebut.
Bagaimana? Tertarikkah ibu-ibu untuk menjadi Copywriter?
***
Pustaka:
Agustrijanto; 2001; Copywriting - Seni Mengasah Kreativitas dan Memahami Bahasa Iklan; Bandung; Remaja Rosdakarya